Ekonomi Kreatif Terus Tumbuh, Kesempatan Desainer Grafis Semakin Besar

Data paling baru dari Tubuh Ekonomi Kreatif (Bekraf) serta Tubuh Pusat Statistik (BPS) tentang Produk Domestik Bruto Bidang Ekraf 2017 mengatakan Ekonomi Kreatif memberi andil sebesar 7,44% pada keseluruhan perekonomian nasional dengan nominal sebesar Rp989 triliun.

Perkembangan cepat berlangsung pada 4 subsektor, diantaranya ialah Design Komunikasi Visual (DKV) berkembang sebesar 8,14%

Islamuddin Rusmin Reka Pelaksana Deputi Pemasaran Tubuh Ekonomi Kreatif menjelaskan, industri ekonomi kreatif input data kedepan bisa menjadi salah satunya motor penggerak buat perekonomian Indonesia ditengah-tengah perlambatan ekonomi global.

Dengan kekuatan market yang besar, dan timbulnya generasi milenial, subsektor design komunikasi visual berpotensi dalam menggerakkan perkembangan Ekraf yang dipandang dapat memberi efek besar pada subsektor Ekraf yang lain, contohnya pada Ekraf Kuliner, Fesyen, Kriya, dan lain-lain.

Kedepan, kehadiran design komunikasi visual/grafis serta design produk bisa menjadi penting dalam perubahan industri kreatif.

“Ini karena terdapatnya keperluan aktor usaha berkaitan branding, materi penampilan, design katalog dan sebagainya. Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) juga seringkali memberi training pada UMKM yang berada di Indonesia, baik bekerja bersama dengan Tubuh Ekonomi Kreatif (Bekraf) atau dengan lembaga lain,” kata Reka.

Co-Founder & Desain Director of Visious Studio yang Ketua Asosiasi Designer Grafis Indonesia (ADGI) Rege Indrastudianto menjelaskan, design grafis serta design produk sebuah komponen penting, karena, kesan-kesan pertama saat lihat produk ialah dari penampilannya, baik dari bentuk produk, warna atau paketannya.

“Kesan-kesan pada produk ini yang perlu dimengerti oleh beberapa produsen. Penampilan jati diri visual yang menarik, baik dari narasi, grafis atau kualitas bikin, akan dapat memberi kesan-kesan yang baik atas produk yang ada. Pendapat kami, untuk beberapa aktor industri, dapat lebih memerhatikan masalah jati diri visual,” katanya.

Berdasar data Bekraf yang dikumpulkan sepanjang periode 2011 sampai 2016, andil PDB Pergerakan perkembangan subsektor Design Komunikasi Visual tertera yang paling tinggi ke empat di ekonomi kreatif.

Ini memperlihatkan subsektor Design Komunikasi Visual berpotensi yang hebat, tetapi masih terhalang oleh ekosistem serta sarana yang terbatas.

Founder seklaigus Director-E+Partners Merek Desain Consultancy dan Board of Directors dari ADGI Emir Hakim juga menjelaskan perubahan industri kreatif di Indonesia, sebuah peluang baik buat karier jadi desainer grafis.

Sejauh ini kiblat design tetap di luar negeri, serta saat ini waktunya beberapa desainer grafis Indonesia memperlihatkan karya-karyanya, hingga tidak kalah saing dengan desainer di luar negeri.

“Saya pribadi optimistis dengan suport pemerintah tentang Ekraf serta utamanya kolaborasi di antara pegiat, korporasi/dunia usaha dan pemerintah, kami beberapa desainer grafis serta produsen Ekraf bisa bekerjasama dalam memajukan Industri Kreatif Indonesia tambah lebih baik,” tuturnya.

Beberapa desainer grafis butuh di dukung dengan edukasi supaya hasil bikin perancangan bisa terbentuk sesuai dengan keinginan desainer serta aktor usaha.

Dari mulai penelusuran inspirasi design, draft design, sampai eskalasi sampai ke percetakan serta finishing produksi design itu. PT Astra Graphia Tbk, yang sejauh ini diketahui jadi distributor mewah Fuji Xerox di Indonesia, memiliki komitmen memberi dukungan industri kreatif.

Direktur PT Astra Graphia Mangara Pangaribuan menjelaskan,faksinya memberi dukungan industri ekraf Indonesia dengan end-to-end, dari mulai bagian People, Technology, serta Process.

Dari bagian People, Astragraphia sudah siap memberi service paling baik untuk konsumen setia dengan team yang kompeten di bagian digital printing, lewat rangkaian pekerjaan edukasi, workshop serta pelatihan.

Dari bagian Technology, Astragraphia di dukung dengan jalan keluar mesin digital printing Fuji Xerox serta mesin digital offset Fujifilm yang kami tawarkan.

“Kami perkuat dari bagian Process, Astragraphia mempunyai printing showroom dimana publik bisa lihat proses bikin sampai finishing. Kami mengharap ke-3 hal di atas bisa digunakan oleh beberapa pemilik usaha printing atau end-user agar tingkatkan pandangan tentang proses bikin yang gampang serta hasil bikin yang presisi dan tingkatkan nilai jual karyanya,” tegasnya.

Chief Graphic Communications Services Astragraphia Eko Wahyudi menjelaskan, faksinya memiliki ide untuk dapat memberi share knowledge jadi aktor industri percetakan.

Share knowledge ini diserahkan kepada beberapa siswa SMK Grafika, Mahasiswa Design, serta professional design yang terhimpun dalam asosiasi desainer grafis.

Share knowledge berbentuk pelatihan in class, workshop, sampai hands-on langsung ke mesin Fuji Xerox.

“Ide ini yang terus digerakkan tiap tahunnya supaya beberapa desainer ini dapat memberi andil paling baik untuk siap kerja serta memberi dukungan perkembangan industri kreatif Indonesia,” pungkasnya. (RO/OL-8)