Peraih Emas Olimpiade Sains Internasional

Simak cerita Lani Djuwita (42) tentang putrinya,Joan Nadia (12), yang berhasil meraih berbagai penghargaan sains internasional.

Ditawari ikut olimpiade

“Sejak kecil, Joan sudah ikut berbagai les. Di usia 3 tahun, ia sudah les piano, usia 4 tahun belajar balet, bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Dilanjutkan les vokal di usia 6 tahun. Semua itu tanpa paksaan, karena kemauannya sendiri. Ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Beberapa kali Joan meraih juara pada berbagai bidang lomba sesuai les yang diikutinya. Menurut gurunya, Joan memang punya beragam talenta. Masuk usia SD, Joan mulai tertarik dengan dunia sains.

Memang, sejak kecil, Joan senang menonton video kartun tentang sains. Di usia 1 SD, ia mulai suka komik sains Kuark. Saat kelas 4 SD, Joan pindah sekolah. Karena Joan mendapat nilai IPA yang tinggi, gurunya menawari Joan ikut Olimpiade Sains Kuark (OSK). Tentu saja Joan senang. Kala itu ia masuk sampai tahap fnal. Kami sudah bersyukur karena itu pertama kali Joan ikut olimpiade dan mampu bersaing dengan 87 ribu anak se-Indonesia, walaupun belum berhasil meraih juara.

Di kelas 5 SD, Joan ikut kembali OSK dan berhasil meraih perunggu. Pada tahun yang sama, Joan juga ikut Olimpiade Sains Nasional (OSN). Secara bertahap Joan berhasil lolos; dari tingkat kecamatan, kota, hingga provinsi. Sampai kemudian di tingkat nasional Joan bersaing dengan anak-anak dari seluruh Indonesia yang mewakili semua provinsi. Untuk OSN ini Joan berhasil meraih emas.”

Maju ke lomba Internasional

“Setelah lomba tingkat nasional, Joan mulai ikut seleksi lagi untuk tingkat internasional. Ada 12 anak yang ikut untuk IMSO (International Mathematics Science Olympiad ) di Filipina. Joan berhasil membawa medali emas. Untuk 2014 ini, Joan kembali ikut OSK yang diikuti 96 ribu anak dari seluruh Indonesia. Kembali Joan dapat peringkat pertama mendapat emas dan meraih penghargaan dari pihak sponsor berupa educational trip ke Singapura. Joan memiliki kesadaran belajar yang tinggi.

Namun kami juga terus memotivasi karena pasti ia mengalami up and down. Kami selalu tanamkan agar Joan tidak hanya mengutamakan hasil. Kalaupun tidak mencapai yang terbaik, tapi ia puas karena sudah melakukan seoptimal mungkin, tak perlu kecewa. Ia pun harus mengakui bila ada yang lebih hebat darinya. Karena itu ia masih perlu banyak belajar lagi. Dengan begitulah tak ada beban bagi Joan.”

Simak informasi lebih berikut ini mengenai “ tempat kursus persiapan teofl ibt di Jakarta